COACHING DALAM KONTEKS PENDIDIKAN
COACHING

By Dra.Hj.Yenni Putri, MM 02 Apr 2025, 19:48:47 WIB Pendidikan
COACHING DALAM KONTEKS PENDIDIKAN

Definisi Coaching

Hubungan kemitraan dengan lawan bicara/coachee, dalam suatu percakapan kreatif yang memicu pemikiran, untuk memaksimalkan serta mengembangkan potensi pribadi dan profesional lawan bicara/coachee.

Coaching dalam Konteks Pendidikan

Coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya. Sebagai seorang ‘pamong’. Guru dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

Pentingnya proses coaching:

• Proses untuk mengaktivasi kerja otak.

• Pertanyaan-pertanyaan reflektif dapat membuat coachee melakukan metakognisi.

• Pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat coachee lebih berpikir secara kritis dan mendalam sehingga murid 

   dapat menunjukkan potensinya.

PARADIGMA BERPIKIR COACHING :

  1. Fokus pada coachee

Coach memusatkan perhatian pada orang yang dicoachingnya, bukan pada topik yang dibawa dalam percakapan .

Fokus diletakkan pada bagaimana topik apapun yang dibawakan oleh coachee, dapat membawa kemajuan pada coache, sesuai keinginan coachee

  1. Bersikap terbuka dan ingin tahu lebih banyak

Coach memiliki pikiran yang terbuka terhadap pemikiran-pemikiran coachee. Ditandai dengan minimnya penilaian/pelabelan atau analisia tentang baik/buruk atau benar/salahnya pemikiran tersebut. Ditandai dengan kemampuan menerima pemikiran dengan tenang, dan tidak menjadi emosional.

Bersikap ingin tahu lebih banyak, disini seorang coach memelihara rasa ingin tahu (curiosity) yang besar terhada apa yang membuat coacheenya memiliki pemikiran/pendapat/Perasaan tertentu.

  1. Memiliki kesadaran yang kuat

Kesadaran diri yang kuat membantu coache untuk bisa menangkap adannya perubahan yang terjadi selama percakapan. Jangan mampu menangkap adanya emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, baik dari diri cocah maupun dari coachee.

  1. Saya membantu coachee melihat peluang baru.

Coache harus mampu melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa coachee melihat masa depan.

PARADIGMA BERPIKIR COACHING

  1. Kemitraan

Ditandai oleh adanya tujuan percakapan yang disepakati, idealnya tujuan datang dari coachee

  1. Percakapan Kreatif

Percakapan 2 arah, percakapan dilakukan untuk menggali, memetakan situasi coachee.

  1. Memaksimalkan Potensi

Percakapan harus ditutup dengan Kesimpulan yang dinyatakan oleh coachee dan percakapan mengahsilkan rencana Tindakan.

Kompetensi COACHING

  1. Presense
  1. Kemampuan untuk hadir utuh bagi coachee kit
  2. Badan - pikiran - hati selaras saat sedang melakukan percakapan dengan coachee
  3. Ini bagian dari Kesadaran Diri
  4. Ini membantu munculnya mindset dan kompetensi yang lain
  5. Bersikap terbuka
  6. Bersikap sabar
  7. Bersikap ingin tahu lebih banyak
  8. Mendengarkan Aktif

adalah kemampuan untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh lawan bicara dan memahami keseluruhan makna yang tidak terucapkan.

3 ALASAN TIDAK BISA MENDENGARKAN

  • Asumsi - sudah mempunyai anggapan tertentu tentang suatu situasi
  • Judgment/Melabel -memberi label pada seseorang dalam situasi tertentu
  • Asosiasi - mengaitkan dengan pengalaman pribadi
  1. Melontarkan Pertanyaan Berbobot
    1. Pertanyaan lahir dari mendengarkan
    2. Berbentuk pertanyaan terbuka
    3. Membuat coachee merenung, menggali, mengingat, mengaitkan
    4. Diajukan pada saat yang tepat
    5. Bentuk pertanyaan terbuka: menggunakan kata APA - BAGAIMANA - SEBERAPA.
    6. Tidak menggunakan kata KENAPA atau MENGAPA
    7. Bukan pertanyaan TERTUTUP: Apakah, Sudahkah, Apa sudah, pertanyaan yang dijawab dengan Ya atau Tidak

MENDENGARKAN & BERTANYA DENGAN RASA

R – receive Menangkap kata kunci - kata-kata yang diucapkan klien

CIRI-CIRI KATA KUNCI:

    • diucapkan berulang-ulang
    • diucapkan dengan intonasi tertentu
    • berupa kata yang aneh/metafora/analogi
    • tertangkap ada emosi saat diucapkan
    • menggambarkan kondisi perasaan/pemikiran dia saat itu

diucapkan setelah "tapi" atau "namun".

A – acknowledge

    • Memberi tanda/sinyal bahwa kita mendengarkan
    • Dengan anggukan, dengan kontak mata
    • Jika percakapan dilakukan secara daring, bisa dengan mengatakan "O..", "Ya..".
    • Memberikan perhatian penuh pada coachee.
    • Tidak sibuk mencatat

Tidak terganggu dengan situasi lain

S – summarize

    • Saat coachee selesai bercerita, rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama
    • Gunakan kata kunci
    • Digunakan juga untuk merangkum potongan-potongan informasi yang telah didapatkan sebelum ini.
    • Mintakan konfirmasi dari coachee apakah rangkuman kita betul

A – ask

    • Berdasarkan yang kita dengar dan hasil merangkum (summarizing), ajukan pertanyaan yang membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya
    • Pertanyaan harus merupakan hasil mendengarkan - mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi
    • Dalam format pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana.
    • Jangan gunakan ‘mengapa’ atau ‘apakah’ atau ‘sudahkah’.

Penggunaan Kompetensi Coaching

  1. Dalam Sesi Coaching
    1. Dalam sesi coaching, akan ada alur tertentu yang harus diikuti.
    2. Sesi coaching harus terjadwal
    3. Lamanya 30-90 menit
  2. Dalam Percakapan dengan Tujuan Tertentu
    1. Bisa tidak terjadwal
    2. Didorong oleh kebutuhan untuk memiliki teman berpikir menghadapi situasi tertentu atau kebutuhan untuk mengetahui kemajuan

Tips untuk bisa Presence

  1. HADIR SEPENUHNYA

Psepenuhnyaastikan Anda bisa hadir, agar memudahkan untuk fokus kepada coachee. Jangan melakukan coaching saat sulit untuk hadir sepenuhnya:

tanggal/jam sibuk Anda, sedang sakit.

  1. SABAR, SABAR, SABAR

Menguatkan kualitas sabar di dalam diri, sehingga selama percakapan bisa merespons pada saat yang tepat serta mampu memberikan ruang kepada coachee untuk bicara

  1. BERSIKAP TERBUKA DAN INGIN TAHU

Berniat untuk tidak memberi label pada coachee atau apapun yang dikatakannya

Bangun kualitas keingintahuan Anda, tahan diri untuk memberi nasihat atau memberikan solusi.

Pusatkan rasa ingin tahu pada apa yang ada di balik ucapan-ucapan atau pemikiran-pemikiran coachee.

Alur Percakapan TIRTA

  1. T (Tujuan) Menyepakati topik pembicaraan dan hasil pembicaraan
  • Tujuan yang kita tentukan di sini adalah TUJUAN PERCAKAPAN (30-90)’, bukan tujuan yang lain.
  • Tujuan percakapan terdiri dari 2 hal:
    • Agenda/Topik Percakapan
    • Hasil dari Percakapan

Ada 2 Pertanyaan yang Harus diajukan:

  • Pertanyaan tentang Agenda:
    • Apa yang topik/agenda percakapan kita kali ini?
  • Pertanyaan tentang hasil:
    • Apa yang ingin Bapak/Ibu (Murid) dapatkan dari percakapan ini?
  1. I (Identifikasi), Menggali dan memetakan situasi saat ini. Hubungkan fakta-fakta yang ada.

Ini tahap saat coach membantu coachee melihat/mengidentifikasi apa saja yang sebetulnya ada di dalam situasinya saat ini.

Ini mencakup fakta yang kasat mata dan tak kasat mata (perasaan, keinginan, dorongan)

Tujuan tahap ini adalah memperjelas, menggali dan memetakan situasi

Contoh pertanyaan:

  • Situasinya sekarang seperti apa?
  • Apa yang mempengaruhi hal itu?
  • Situasi yang diinginkan seperti apa?
  • Apa yang bisa membuat itu terwujud?
  1. R (Rencana Aksi)

Mengembangkan ide untuk alternatif rencana aksi/solusi

  • Tahap ini adalah tahap mengeksplorasi gagasan/kemungkinan dan rencana.
  • Jika coachee sudah bisa melihat situasi dengan cara baru (tahap I) biasanya ia sudah siap diajak mengeksplorasi gagasan atau alternatif baru
  • Dari tahap ini bisa keluar 1-3 gagasan, tidak perlu terlalu banyak. Yang penting setiap gagasan harus dibuat spesifik dan detil.
  • Di tahap ini, coach boleh brainstorming atau berbagi pengalaman jika diminta.

Contoh Pertanyaan:

  • Ada gagasan apa untuk ……?
  • Apa yang harus disiapkan untuk itu?
  • Apa yang bisa memastikan hal itu berjalan?
  • Apa kriteria… yang diinginkan?
  • Apa lagi?
  1. TA (Tanggung Jawab), Berkomitmen akan langkah selanjutnya

Di tahap ini, tugas coach adalah mengukuhkan komitmen coachee dan meminta coachee membangun struktur akuntabilitasnya.

Minta coachee menyimpulkan, jangan coachnya.

Coach mungkin perlu mencatat komitmen dalam bentuk action

Contoh pertanyaan:

  • Jadi apa yang akan dilakukan setelah sesi ini dari alternatif-alternatif tadi?
  • Kapan? Siapa yang perlu dihubungi?
  • Bagaimana Bapak/Ibu memastikan ini bisa berjalan?
  • Siapa yang perlu dimintai dukungan?

Pertanyaan penutup:

  • Apa yang bisa disimpulkan dari sesi ini?

Apa yang menjadi insight dari sesi ini?

DEFENISI DAN PERAN COACHING DALAM SUPERVISI AKADEMIK

bahwa coaching merupakan kegiatan pembinaan yang membuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerja mereka sendiri, yang membantu mereka untuk belajar daripada mengajar mereka. Cakupan dari coaching meliputi:

  1. Mengakses potensial
  2. Memfasilitasi individu untuk membuat perubahan yang diperlukan
  3. Memaksimalkan kinerja
  4. Membantu orang memperoleh ketrampilan dan mengembangkan
  5. Menggunakan teknik komunikasi khusus

PERAN COACHING

1) Coaching untuk mendukung pembelajaran

Jenis coaching ini diterapkan untuk mendukung proses pembelajaran karyawan yang mengarah kepada proses pengembangan secara individu. Proses ini fokus pada pekerjaan atau tugas yang nyata dalam waktu yang sesungguhnya. Coach membantu coachee berpikir mengenai berbagai aspek kegiatan dalam tugasnya. Sebagai contoh coach membantu coachee dalam mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang harus diubah, menetapkan tujuan SMART (Spesific, Measurable, Attainaible, Realistic, and Timely).

2) Coaching untuk kinerja

Coaching jenis ini ditujukan untuk menjadi intervensi perbaikan kinerja bagi organisasi, karena dapat dilakukan berdasarkan keinginan untuk mendapatkan kinerja yang lebih baik. Dalam hal ini, coach membantu individu dalam belajar bagaimana menetapkan sasaran untuk dirinya, meningkatkan kesadaran pribadi, memperbaiki kinerja dan mengembangkan strategi-strateginya untuk meningkatkan kualitas hidup.

3) Coaching untuk pengembangan kepemimpinan

Jenis coaching ini lebih dikenal dengan istilah excecuitve coaching, coaching ini dapat diimplementasikan untuk mendukung proses umpan balik 360 derajat dimana para pemimpin eksekutif, kolega, senior, dan alur laporan langsung memberikan feedback tentang efektivitas individu dengan menjawab pertanyaan spesifik tentang perilakunya.

4) Coaching tim dan kelompok

Jenis coaching ini melibatkan team leader dan team coach. Coaching tim dapat sangat bermanfaat ketika diimplementasikan pada tim yang mendapat proyek baru, atau tim yang sedang menghadapi tenggat waktu. Baik coach internal dan eksternal yang bekerja sama dengan tim dapat membantu untuk meningkatkan komunikasi memperkuat komitmen dan meningkatkan kemungkinan untuk menyelesaikan proyek atau tujuan.

TAHAPAN SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PRISIP COACHING

PRA-OBSERVASI

Percakapan mengenai bagaimana dari pembelajaran yang akan menjadi focus pengembangan, bertujuan untuk menggali informasi awal, bagaimana seorang guru menyampikan rencana pengembangan diri yang akan diwujudkan dalam pembelajaran

OBSERVASI

Kepala Sekolah sebagai supervisor melakukan supervise pembelajaran dikelas dan membuat catatan pada lembar observasi, tujuan untuk mengamati kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya, serta mengamati keterlaksanaan strategi yang disampaikan saat pra observasi untuk menwujudkan pengembangan kompetensi

PASCA-OBSERVASI

Pemberian umpan balik berbasis coaching dan percakapan coaching

FAKTOR KEBERHASILAN

a) Pra-observasi (Pertemuan awal):

(1) Terciptanya suasana akrab dengan guru

  1. Membahas persiapan yang dibuat oleh guru dan disepakatinya fokus pengamatan

(3) Disepakatinya instrumen observasi yang akan digunakan

b) Observasi (Pengamatan pembelajaran)

(1) Dilaksanakan pengamatan sesuai dengan fokus yang telah disepakati

(2) Digunakannya instrumen observasi

  1. Adanya catatan (fieldnotes) berdasarkan hasil pengamatan yang mencakup perilaku guru dan peserta didik, selama proses pembelajaran (mulai pendahuluan sampai penutup).

(4) Tidak mengganggu proses pembelajaran

c) Pasca-observasi (Pertemuan balikan):

(1) Terlaksananya pertemuan balik setelah observasi

(2) Menanyakan pendapat guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung

  1. Menunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan) dan memberi kesempatan guru mencermati dan menganalisisnya

(4) Mendiskusikan secara terbuka hasil observasi terutama pada aspek yang telah disepakati dan memberikan penguatan terhadap penampilan guru

(5) Menghindari kesan menyalahkan, usahakan guru menemukan sendiri kekurangannya

(6) Memberikan motivasi bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya

  1. Menentukan bersama rencana pembelajaran dan supervise

berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment